AGENDA HARI INI


Sejumlah agenda kegiatan direncanakan warga, Sabtu (29/6/2013). Ini adalah sebagian di antara agenda itu, sebagaimana disampaikan penyelenggara masing-masing kegiatan kepadaSolopos.com:
- Sekolah Tinggi Hindu Dharma (STHD) Klaten hari ini menjadwalkan pelaksanaan seminar sehari sebagai implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Seminar itu bakal dilaksanakan di aula kampus STHD Klaten, Karanganom, Klaten Utara, Klaten.
- Komando Distrik Militer 0735, mulai pukul 08.00 WIB, menjadwalkan acara khitanan massal di RS Slamet Riyadi (DKT) Solo.
- PT Nusantara Tour & Travel, mulai pukul 10.00 WIB, menyelenggarakan paparan terkait Malaysia Healthcaredi Lobby Hotel Solo Paragon.
Kejuaraan Pencak Silat Tingkat Pelajar se-Indonesia yang diselenggarakan Keluarga Silat Nasional Perisai Diri di Gelanggang Pemuda Bung Karno Manahan masih berlanjut hingga Senin (30/6/2013).
Sementara itu, dari Kudus, PT Djarum mulai pukul 08.00 WIB menjadwalkan acara Audisi Bulu Tangkis PB Djarum di gelanggang olahraga setempat. Acara dilaksanakan Jumat-Sabtu (28-29/16/2013).
- Sedangkan di Jogja, Daarul Quran menjadwalkan peresmian klinik daqu sehat Jogja bersama Ust Yusuf Mansur pada Pukul 12.00 WIB-15.00 WIB. Klinik Daqu Sehat Jogja beralamat di Jl Jogja-Magelang KM 23 Jomoyo, Salam, Magelang. 
READMORE
 

Smash Bertabrakan, ABG Tewas


Ilustrasi olah tempat kejadian perkara kasus kecelakaan lalu lintas (dok. solopos,com)
SOLO — Anak baru gede (ABG) warga Lojiwetan, Kedung Lumbu, Pasar Kliwon, Solo, Muhammad Candra Yanuar, 18, tewas setelah sepeda motor yang ia kendarai bertabrakan di simpang tiga Sido Mulyo, Jebres, atau Jl RE Martadinata, Kamis (27/6/2013) malam.
Motor Suzuki Smash berpelat nomor AD 4155 FA yang ia kendarai bertabrakan dengan Smash AD 5457 UF dari arah berlawanan, sekitar pukul 23.00 WIB. Dua motor yang bertabrakan itu masing-masing ditumpangi berboncengan.
Candra dan tetangganya, Ridwan Amrizal, 16, melaju dari arah timur. Sementara Smash dari arah barat dikendarai Tegar Mukti Cahyo Jinawi, 16, warga Semanggi, Pasar Kliwon. Saat itu, Tegar tengah memboncengkan rekannya, Dadang Wibisono, 16, warga Pucangsawit, Jebres.
Kanitlaka Polresta Solo, AKP Warsono, mengatakan laju kendaraan Candra  terlalu ke kanan sehingga berjalan melawan arah. Saking kerasnya tabrakan,  Candra meninggal di tempat kejadian. Tiga korban kecelakaan, kecuali Candra, terang Warsono, hanya menderita luka lecet di beberapa bagian tubuh.
Dia mengungkapkan korban meninggal ditetapkan sebagai tersangka dalam kecelakaan tersebut. Meski demikian, dia mengaku belum bisa menyimpulkan kasus itu lantaran penyelidikan masih berjalan.
“Soal  [faktor] miras, masih kami selidiki,” tambah Warsono mewakili Kasatlantas, Kompol Matrius, kepada wartawan, di ruang kerjanya, Jumat (28/6/2013).
Warsono memaparkan selain tersangka berjalan melawan arus, kecelakaan juga dipicu oleh minimnya lampu penerangan jalan. “Kontur jalan yang menurun juga menjadi salah satu faktor kecelakaan itu.”
READMORE
 

SBC VI : Sore Nanti Solo Batik Carnival, Slamet Riyadi & Jensud Ditutup Hingga Pukul 19.00 WIB


SOLO—Solo Batik Carnival (SBC) VI 2013, Sabtu (29/6/2013) digelar. Sebanyak 141 peserta karnaval akan menempuh rute sepanjang 3,4 km.  SBC dimulai pukul 15.00 WIB.
Rute SBC VI bermula dari perempatan Purwosari tepatnya depan Solo Center Point (SCP), menyusuri Jl Slamet Riyadi berbelok ke utara Jl Jenderal Sudirman (Jensud) dan berakhir di Balaikota Solo.
Kabid Lalu Lintas Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Solo, Sri Baskoro, kepada wartawan, Jumat (28/6/2013), mengatakan Jl Jensud ditutup hingga pukul 19.00 WIB.
Berikut tahapan penutupan jalan :
-          Pada pukul 15.00 WIB Jl Slamet Riyadi mulai dari bundaran dekat SPBU Purwosari hingga sekitar Solo Center Point (SCP).
-          Kendaraan dari barat dibelokkan ke Jl Agus Salim atau ke Jl A Yani.
-          Seluruh titik persimpangan Jl Slamet Riyadi bakal ditutup bertahap seiring peserta SBC VI berjalan ke timur
-          Penutupan koridor Jensud dimulai pukul 16.00 WIB hingga pukul 19.00 WIB
-          Karnaval dipusatkan di sepanjang Jensud dari bundaran Gladak hingga Tugu Pemandengan depan Balaikota Solo
-          Performance SBC dilakukan di koridor Jensud
READMORE
 

Di Jual Sambal Pecel (sambal kacang) khas wonogiri

Sambal Pecel "DUA PUTRA" di jual dengan harga Rp.8000, sambal dua putra di buat dengan bahan yang berkualitas dengan rasa yang pas,, sambal dua putra adalah makanan kha kota wonogiri,. anda tidak akan menyesal membeli produk kami, jika berminat hubungi pak soleh: 085327700393
READMORE
 

KANG IWA-GURU BESAR BKC(BANDUNG KARATE CLUB)

READMORE
 

Primbon Jawa

READMORE
 

JodohKu

Hidup memang penuh kejutan, setidaknya bagiku. Semuanya berawal dari pembicaraanku dengan Mama sebulan yang lalu. Aku dan Mama sedang sarapan saat Mama tiba-tiba membuka pembicaraan.

“Sampai kapan Mama harus mengurus kamu, Bram?” pertanyaan Mama membuatku tertegun.

”Maksud Mama?” aku menatap Mama. Mencoba menerka arah pembicaraannya.

”Yah, bukankah sudah saatnya ada perempuan lain yang menemani kamu sarapan?” Mama tersenyum menatapku.

Mungkin memang sudah waktunya aku menikah. Tahun ini usiaku tiga puluh lima tahun. Penghasilanku sebagai manager di salah satu perusahaan asing cukup memadai untuk berumah tangga. Apalagi yang ditunggu? Pertanyaan ini sudah sangat sering kudengar dari kerabat ataupun kolegaku.

Aku tersenyum kecil.

”Mama tahu, kamu merasa bertanggungjawab kepada Mama dan adik-adikmu. Tetapi jangan lupakan yang satu itu. Mira sudah berkeluarga, Dewi juga. Sementara Mama sudah lebih dari cukup menerima perhatianmu. Mama sangat bersyukur memiliki anak sepertimu.”

Aku terdiam.

”Bram, Papa titip Mira dan Dewi… juga Mama…” Papa berbisik perlahan sehari sebelum kematiannya, sepuluh tahun yang lalu. Saat itu, Mira baru saja masuk kuliah dan Dewi masih kelas satu SMU. Sejak itu, hari-hariku kuisi dengan kerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

”Bram…” Mama menunggu jawabanku.

”Iya, iya, Insya Allah. Ma…”

Mama benar. Tidak ada lagi alasan bagiku untuk menunda rencana berkeluarga. Dewi sudah menikah tiga bulan yang lalu. Amanah Papa sudah kutunaikan. Persoalannya adalah, siapa wanita yang akan kunikahi? Aku tidak pernah pacaran. Aku takut terjebak melakukan perbuatan yang tidak baik. Alternatif calon juga tidak ada. Jadi, siapa yang akan kulamar?

Sebenarnya, aku bisa minta bantuan kepada orang lain. Mama, kerabat atau kolegaku dengan senang hati pasti akan berusaha membantu. Tetapi, sebelum meminta bantuan orang lain, aku akan shalat istikharah dulu. Aku ingin melangkah dengan tenang.

Dan terjadilah keajaiban itu. Setelah dua kali sholat, tiba-tiba Laras muncul dalam mimpiku. Begitu jelas. Laras? Aku tercengang. Laras adalah teman kuliahku di Pasca Sarjana. Sudah hampir dua semester ini aku kuliah lagi di salah satu PT terkenal di Jakarta. Ia sangat cerdas dan rasional. Ia juga kerap membantaiku dalam diskusi-diskusi di ruang kuliah.

”Menurut saya, teori yang saudara gunakan untuk menganalisa persoalan ini tidak tepat. Terlalu dipaksakan…” komentar Laras saat membantaiku seminggu sebelumnya terngiang kembali di telingaku. Komentar yang diucapkannya dengan santun itu selalu membuatku gelagapan. Komentarnya selalu logis, ilmiah dan sulit dibantah. Sudah berkali-kali aku dan teman-teman ’dibantainya’.

Ya, mengapa harus Laras? Perempuan yang kepribadiannya begitu kuat dan tenang, sampai tidak ada pria yang berani menjalin hubungan lebih dekat dengannya. Sebenarnya Laras baik, sangat baik. Ia tidak pernah segan membantu orang lain atau berkata kasar. Tetapi aku benar-benar sungkan menghadapinya. Apalagi membayangkan harus melamarnya.

Mimpi itu juga menyisakan pertanyaan buatku. Benarkah ini isyarat Allah? Atau, aku diam-diam menyukainya sehingga sosok Laras muncul dalam mimpiku. Aku bimbang.

“Bagaimana, Bram?” Mama meminta kejelasan dariku dua minggu kemudian. Aku hanya mampu tersenyum kecut.

“Belum ada calon? Apa perlu Mama bantu?” Mama menatapku.

Aku tergagap. “Tidak perlu, Ma. Saya akan mencoba mencari sendiri saja.” Mama tersenyum. Aku menarik napas lega. Untuk sementara aku berhasil menenangkan Mama.

Malamnya, aku mencoba menenangkan diri dan mulai shalat istikharah lagi. Kali ini, aku mencoba lebih tenang dan pasrah kepada Allah. Aku mencoba melepaskan segala kebimbangan dan sungguh-sungguh meminta keputusan-Nya.

Aku berjalan bersisian dengan Laras. Begitu dekat. Laras tersenyum. Manis dan sangat lembut. Mimpi itu lagi! Aku terbangun menjelang pukul tiga dinihari. Sebentuk perasaan aneh masih sempat kurasakan saat aku terbangun. Indah!

Apakah Laras memang jodohku? Pertanyaan itu kembali bermain dalam benakku. Aku mencoba menelisik kembali kejernihan hatiku. Benarkah aku memang tidak terobsesi kepada Laras? Aku mengurai kembali semua interaksiku dengan Laras. Sejak pertemuan pertama.

”Saya Laras!” Ia memperkenalkan diri dengan lugas, tanpa senyum. Juga tanpa jabat tangan. Aku hanya mengangguk.

”Bram.” Aku menyebutkan namaku. Dingin, tapi cukup sopan. Itu kesan pertamaku. Ia tidak genit atau cerewet seperti satu dua orang perempuan yang pernah kukenal. Seingatku, tidak pernah ada momen istimewa antara aku dengan Laras. Benar-benar hanya hubungan antar-teman kuliah. Aku malah lebih akrab dengan Susi, teman kuliahku yang lain. Aku juga tidak pernah merasa ’aneh’ saat berinteraksi atau berpapasan dengannya. Bahkan ketika aku nyaris bertabrakan dengannya. Semua wajar dan biasa saja.

So? Aku masih tetap ragu. Kuputuskan untuk menunggu sampai benar-benar merasa yakin. Dan selama masa menunggu itu, terjadi suatu peristiwa yang semakin membuatku merasa ciut menghadapi Laras.

”Maaf…” Laras mengacungkan tangan. Semua mata tertuju kepadanya. Aku menahan napas. Apa yang akan dikatakannya kali ini. Aku berdebar-debar menunggu komentarnya atas makalah yang kupresentasikan.

”Menurut saya, makalah ini tidak memenuhi kualifikasi ilmiah.” kata-kata itu diucapkannya dengan nada meminta maaf. Aku terkejut. Makalah ini memang kusiapkan dengan terburu-buru. Pekerjaanku di kantor sedang bertumpuk. Beberapa teman menggumam. Dosenku tersenyum kecil. Ia sudah biasa menghadapi Laras.

Aku tersinggung dan merasa dipermalukan. Ini adalah komentar paling tajam yang pernah dilontarkan Laras kepadaku. Walaupun kemudian aku bisa menerimanya saat ia dengan argumentatif menjelaskan kelemahan makalahku.

Kejadian itu membuatku semakin ragu. Entahlah, barangkali aku merasa tidak siap mempunyai istri yang dapat membantaiku setiap saat. Atau mempertanyakan kebijakanku sebagai suami. Aku memang tidak terbiasa dipertanyakan seperti itu. Kedudukanku sebagai anak tertua dan tulang punggung keluarga membuat adik-adikku dan Mama memperlakukanku secara istimewa. Apa kata Mas saja, terserah Mas… Selalu itu yang kudengar dari mereka. Kalaupun mereka tidak sependapat denganku, tidak pernah ada yang secara lugas menyatakan ketidaksetujuannya. Begitu juga dengan bawahanku di kantor.

Aku semakin tidak berani menghadapinya setelah peristiwa itu. Jadi, untuk sementara aku terpaksa menenangkan diri lagi. Tapi, desakan dari Mama tiga hari yang lalu membuatku terpaksa bertindak.

”Bram, mungkin sudah waktunya Mama membantu. Sudah sebulan, dan kamu belum juga bertindak apa-apa. Mama sudah semakin tua, Bram. Belakangan ini, Mama semakin sering sakit. Mama tidak ingin terjadi sesuatu pada diri Mama sebelum kamu menikah…” Mama berkata setengah memohon. Aku menunduk.

”Bram…”

Aku menatap Mama. Mama menarik napas panjang. Aku menunggu Mama bicara.

”Kalau tiga hari lagi tidak ada keputusan, Mama akan mencari calon untuk kamu. Kamu kenal Nita? Anak Bu Retno? Nita baik, lho… Dia juga cantik dan terpelajar…” Bla…bla…bla. Hampir lima belas menit Mama bercerita tentang Nita. Aku kenal Nita. Nita memang baik, tetapi bukan itu persoalannya. Aku ingin menuntaskan masalah Laras dulu.

Tidak ada jalan lain. Akhirnya, kumantapkan hatiku untuk bicara dengan Laras. Tapi, bagaimana caranya? Lewat telepon? Nomor telepon Laras saja aku tidak punya. Atau, mengajaknya bicara secara langsung? Bagaimana kalau ia menolak dan membantaiku seperti ia membantai makalahku?

Akhirnya, kuputuskan untuk meminta nomor telepon Laras dari Susi. Aku berhasil menghindar dari pertanyaan Susi dengan memberinya sebentuk senyuman aneh. Untungnya, ia tidak bertanya lebih jauh.

Malamnya, aku mencoba menelepon Laras. Aku menggenggam Hp-ku dengan perasaan tidak karuan. Dengan tangan gemetar aku menelponnya.

”Halo, Assalamu’alaikum!” Suaranya terdengar tegas. Tiba-tiba aku merasa tidak siap berbicara dengannya.

”Halo! Halo!”

Aku mematikan Hp-ku. Looser! Gerutuku dalam hati. Aku benar-benar tidak berdaya.

”Bram, waktunya tinggal hari ini.” Mama menatapku serius saat aku berpamitan tadi pagi.

”Ya, Ma. Aku usahakan.” Aku menjawab ragu.

Jadi, hari ini, mau tidak mau aku harus bicara dengan Laras. Aku berangkat ke kampus dengan gugup. Sampai di kampus, aku mencari-cari Laras. Sosoknya tidak kelihatan sampai kuliah dimulai. Lebih kurang lima belas menit setelah kuliah dimulai, Laras muncul. Ia menuju ke arahku dan mengambil tempat di sebelahku, satu-satunya tempat kosong yang tersisa siang itu. Laras duduk dengan tenang di sebelahku dan segera mengikuti kuliah. Aku semakin gelisah. Tubuhku mulai berkeringat.

Kuliah usai. Aku menunggu kesempatan untuk bicara dengannya. Aku sengaja memperlambat berkemas sambil menunggunya. Satu persatu teman kuliah meninggalkan ruangan. Akhirnya, setelah ruangan cukup sepi, aku memberanikan diri untuk bicara dengannya.

”Laras! Boleh saya bicara?”

Laras menghentikan kesibukannya membereskan buku-buku dan beberapa makalah yang berserakan.

“Ya.” Ia melanjutkan kesibukannya tanpa menatapku sama sekali.

Tanganku gemetar. Suaraku tersekat di tenggorokan.

”Ada yang bisa saya bantu?” Laras akhirnya melihat ke arahku. Ia mulai kelihatan tidak sabar dengan sikapku. Ia sudah selesai membereskan buku-bukunya.

Aku masih tidak mampu bicara. Keringat dingin semakin membasahi tubuhku. Ya Allah, aku benar-benar grogi.

”Bram!” suara Laras meninggi.

Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri sejenak. Yudi, satu-satunya teman yang masih berada di ruang kuliah menoleh ke arah kami.

“La..ras…” Suaraku tersendat.

Laras menatapku bingung.

“Ehm… would you… ehm… marry me?” aku tergagap. Akhirnya, keluar juga perkataan itu dari mulutku.

Laras menatapku heran. Ia menunduk, berpikir sejenak. Aku menunggu. Rasanya seperti menunggu sebuah vonis.

”Kupikir, itu bukan ide yang baik,” katanya setelah beberapa menit terdiam. ”Aku duluan, Bram. Assalamu’alaikum…”

Aku terpana. Aku masih juga terpana saat tiba-tiba Yudi menepuk pundakku.

“Apa tidak ada cara yang lebih romantis, Bung?” Yudi tersenyum. Aku salah tingkah.

Begitulah, proses perjodohanku terpaksa kandas di tengah jalan. Aku tidak patah hati. Tentu saja karena aku memang tidak pernah jatuh cinta pada Laras. Tetapi kuakui, aku cukup terpukul dengan kenyataan ini. Ternyata, aku tidak cukup pandai membaca isyarat Allah. Atau, caraku yang tidak baik? Melamar di ruang kuliah tanpa prolog seperti itu memang naif sekali.

Sore itu aku pulang dengan lemas. Mama duduk di teras, sedang asyik dengan koran sore dan secangkir teh hangat. Setelah mencium tangan Mama, aku menghempaskan tubuh di kursi.

Mungkin Mama bisa menangkap kegetiranku. Mama mengusap rambutku. Aku bersyukur Mama tidak membuka pembicaraan mengenai perjodohanku. Aku tidak siap.

Sepanjang sore itu aku mencoba menenangkan diri. Aku mencoba bersikap realistis menghadapi kenyataan ini. Aku percaya, Allah akan memberikan seorang pendamping untukku.

Pikiranku masih tidak menentu saat aku bangun tadi pagi. Aku shoalat istikharah lagi tadi malam. Tapi kali ini, aku tidak memperoleh isyarat apa-apa. Akhirnya, kuputuskan untuk bicara dengan Mama. Toh, Nita gadis yang baik juga.

Aku mendahului bicara sebelum Mama bertanya tentang keputusanku.

”Ma…”

”Ya? Kenapa, Bram?”

”Aku…” Aku terdiam sejenak. Aku baru akan melanjutkan ucapanku saat sebuah pesan masuk. Aku meraih HP yang tergeletak di meja dengan enggan.

Laras???

Apa lagi yang akan dikatakannya sekarang? Berdebar aku membuka pesannya.

Setelah saya pikirkan lagi, ide kamu tidak terlalu buruk. Tawarannya masih berlaku?

Aku terpana. Hidup memang penuh kejutan.[]
READMORE